Baitul Mal Kota Dukung Kampanye Gerakan Wakaf Produktif

Baitul Mal Kota Dukung Kampanye Gerakan Wakaf Produktif

BANDA ACEH – Baitul Mal Kota Banda Aceh ikut serta dalam Seminar Kampanye Gerakan Wakaf Produktif yang dilaksanakan oleh Dewan Dakwah Aceh bekerjasama dengan Kanwil Kemenag Aceh di Grand Lambhuk Hotel, Selasa (3/11/2020). Dalam Seminar itu membahas mengenai wakaf produktif  yang merupakan salah satu upaya untuk menjadikan wakaf sebagai sentra pemberdayaan ekonomi ummat.

Dalam kegiatan tersebut panitia menghadirkan sejumlah pemateri yang sangat berkompeten di bidang wakaf, Diantaranya Plt Kepala Baitul Mal Aceh, Dr Armiadi Musa MA, Ketua Badan Waqaf Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Drs Edy Setiawan, Ak dan Bidang Urais Kanwil Kemenag Aceh, Rahmawati, ST

Ketua Panitia, Zulfikar Tijue menjelaskan wakaf produktif juga untuk menghindari aksi penarikan kembali tanah wakaf oleh ahli waris lantaran tanah wakafnya tidak terurus, padahal letaknya pada lokasi yang sangat strategis. 
Menurutnya, walau pemerintah Indonesia telah mengeluarkan UU No.41 Tahun 2004 tentang Wakaf dan PP No.42 Tahun 2006. Khususnya Aceh sudah ada Qanun 10 Tahun 2018 dan juga Badan Wakaf Indonesia, akan tetapi lanjutnya dalam realitas pemanfaatan wakaf yang potensi di Aceh hampir 800 ribu Ha atau hampir 18% dari potensial nasional, masih sangat konvensional dalam pelaksanaannya.

“Untuk itu maka perlu adanya sebuah gerakan wakaf produktif sebagai upaya untuk memperbaiki kondisi Aceh menjai lebih baik dalam bidang pendidikan, maupun kepentingan ekonomi terlebih dalam kondisi pandemi covid 19,” ujarnya.

Sementara itu, Komisioner Baitul Mal Banda Aceh Abdul Munir dan Muzakkir Hanka yang hadir sebagai peserta seminar mengatakan, dengan dibuatnya kampanye gerakan wakaf produktif sudah jelas aturannya bahwasanya peran masing-masing leading sektor tidak tumpang tindih. Misalnya peran Baitul Mal yang lebih fokus kepada zakat atau amil. Yang kedua Badan Wakaf Indonesia sebagai lembaga yang memberi izin terkait jumlah-jumlah luas tanah wakaf berdasarkan aturan. Kemudian lagi Kemenang, beda fungsinya dengan Baitul Mal karena Kemenag bukan sebagai amil, Kemenag lebih ke Unit Pengumpul Zakat sebagaimana dijabarkan Qanun Nomor 10 Tahun 2018 tentang Baitul Mal.

Menurutnya, ketiga lembaga ini mempunyai peran aktif dalam mengkolaborasikan gerakan wakaf produktif.

“Terkait dengan Baitul Mal Kota Banda Aceh akan berupaya semaksimal mungkin mendukung dan  mengimplementasikan program gerakan wakaf produktif ini melalui penyelenggaraan Training Of Trainer yang akan dijalankan oleh lembaga terkait. Kita juga berencana akan memasukkan program pelatihan nazir untuk Baitul Mal Gampong dalam wilayah Kota Banda Aceh,” jelas Abdul Munir.(MR)