Muhammad Amin Mengucapkan Syahadat di Usia 75 Tahun

BANDA ACEH — Malam baru saja turun di Panteriek ketika suasana Masjid Ar-Rahman, Komplek Perumahan Gampong Panteriek, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh, terasa berbeda. Rabu, 19 Agustus 2026, selepas Shalat Isya, seorang lelaki berusia 75 tahun dibatas kursi roda duduk tenang di hadapan jamaah. Namanya Muhammad Amin. Sebelumnya, ia dikenal sebagai Woen Johanes dan merupakan penganut Buddha.

Malam itu menjadi salah satu titik paling penting dalam perjalanan hidupnya. Dengan kesadaran dan keyakinan hati, ia mengucapkan dua kalimat syahadat, disaksikan Imam Masjid, pengurus BKM, unsur pemerintah gampong, tokoh masyarakat, serta jamaah Masjid Ar-Rahman.

Kalimat syahadat terdengar sederhana, tetapi bagi Muhammad Amin, kalimat itu adalah pintu menuju kehidupan baru.

“Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.” Tidak ada paksaan dalam keputusan tersebut. Ketua Tuha Peut Gampong Panteriek dalam sambutannya mengingatkan bahwa Ia memeluk Islam tanpa paksaan. Keislaman seseorang harus lahir dari kesadaran dan keyakinan.

Pesan itulah yang mengemuka dalam tausiyah Ketua Baitul Mal Kota Banda Aceh, Dr. Tgk. M. Yusuf Al-Qardhawy, MH. Ia mengingatkan pentingnya memberikan perhatian dan pendampingan kepada saudara baru, agar mereka tidak merasa berjalan sendirian dalam mempelajari dan menjalankan ajaran Islam.

Santunan muallaf  yang diserahkan kepada Muhammad Amin malam itu mungkin sederhana. Namun maknanya jauh lebih dalam: sebuah tanda bahwa ia telah diterima sebagai bagian dari keluarga besar umat Islam.

Usia 75 tahun sering disebut usia senja. Tetapi malam itu, senja justru menjadi fajar. Kisah Muhammad Amin mengingatkan kita bahwa hidayah tidak mengenal usia. Ketika Allah membuka pintu hati, masa lalu tidak menjadi penghalang untuk memulai kehidupan yang baru.(MR)