Dunia industri kreatif yang sebagian besar ditekuni oleh anak muda menjadi sasaran baru dalam mengembangkan potensi zakat di Banda Aceh.
Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Banda Aceh, lebih dari 30 persen penduduk merupakan generasi milenial yang berusia 20-40 tahun. “Kita asumsikan saja ada sekitar 10 persen dari total jumlah milenial ini mencapai 9000 jiwa membayar zakat dari ambang batas zakat (nisab) 80 juta. Bila dikeluarkan zakat sebesar 2,5 persen dari tiap jiwa. Zakat yang diperoleh bisa mencapai 18 milyar” Ungkap Suria Darma S.Pd.I membuka talkshow yang diadakan oleh OZ Radio, Senin (14/09/2021).

Saat ini banyak anak muda terutama di Kota Banda Aceh yang telah memiliki usaha sendiri di berbagai sektor seperti kafe-kafe hits kekinian, retail fashion seperti distro, ekonomi kreatif seperti youtuber, videografer, desain grafis dan sebagainya. Mereka sangat produktif secara ekonomi dan hal ini bisa menjadi muzakki yang potensial di kalangan milenial, ujarnya.
Diskusi yang berdurasi 60 menit yang dipandu oleh host Jal Ibrahim dan Aidil Farabi ini juga menghadirkan Dr. Armiadi Musa MA Ketua Prodi Ekonomi Islam Pasca Sarjana UIN Arraniry. Dalam pemaparannya, Ia menjelaskan bahwa dengan berzakat di Baitul Mal, zakat bisa dikumpulkan dalam jumlah yang besar dan dapat disalurkan merata kepada seluruh 8 golongan (Asnaf) yang berhak dan terdata. “Zakat terkoleksi dalam parti besar dibandingkan diberikan dari kantong langsung ke mustahik. Dengan satu juta zakat kita, terkoleksi di lembaga bisa mencapai 18 milyar yang mana ini nanti bisa dibuat program macam-macam seperti pembangunan rumah, pemberian bantuan modal usaha dsb. Mustahik bisa terbantu dalam jumlah yang besar juga”.
Pada sesi terkahir talkshow, Suria Darma menjawab pertanyaan pendengar mengenai mengapa masyarakat harus berzakat di Baitul Mal. Ia menjelaskan bahwa Baitul Mal lahir dari regulasi yang cukup panjang dan mempunyai kepastian hukum. Hal ini sebagai wujud hadirnya pemerintah dalam mengatur kemaslahatan umat. Oleh karena itu dana yang dikelola di audit setiap tahunnya dan dapat dipertanggung jawabkan. Selain itu dengan dana zakat yang terkumpul, Baitul Mal menyalurkannya dalam bentuk program produktif seperti moda usaha, pelatihan softskill dan pemberian bantuan alat kerja dsb. Hal ini tentu akan sangat berbeda jika zakat disalurkan secara pribadi. (MW)
